toBagoes./Maluku Barat Daya
Kumur, 20 Desember 2025 – Seperti matahari yang memecah kegelapan pagi, kebenaran akhirnya terungkap di tengah perselisihan informasi yang melingkupi kasus pasien dari Bebar Timur yang meninggal pada hari Sabtu (4 Desember) pagi.
Pihak keluarga pasien menyampaikan klarifikasi yang indah namun penuh tegas – mengakui upaya tim kesehatan, namun juga menorehkan garis yang jelas antara fakta dan yang tidak sesuai. Ini adalah cerita yang patut Anda baca sampai selesai.
Malam yang Panjang: Penanganan Darurat yang Dihargai
Berdasarkan Keterangan yang Konkrit dari “Yulius Leinussa”
Awal cerita tetap menyentuh hati – pada jam setengah malam hari Selasa (25 November), pasien diantarkan dari Bebar Timur dalam keadaan tidak sadar, mabuk minuman keras, dan luka parah di siku tangan kiri yang menembus sampai tulang dengan pembuluh darah putus. Semua itu terjadi di tengah pemadaman listrik yang total.
Dokter yang cepat bertindak menjahit luka selama lebih dari 1 jam (sekitar 50 jahitan) – bahkan ketika pasien muntah menyembur ke wajahnya. Setelah tindakan selesai, anjuran diberikan dengan jelas: tinggal di Kumur minimal seminggu, makan 10 butir putih telur per hari, dan minum susu tinggi protein. Kontrol berikut dijadwalkan hari Kamis (27 November).
Langkah Menuju Pemulihan: Semua Berjalan Lancar
Kami dengan tulus mengakui bahwa kontrol hari Kamis (27 November) jam 18.00 berjalan dengan baik. Karena puskesmas non-ranap sudah tutup sejak jam 13.00, kontrol pertama dilakukan di rumah dinas dokter – kemudian mereka kembali ke puskesmas untuk mengganti perban dengan penerangan senter HP saja. Luka terlihat membaik, tidak ada perdarahan.
Kontrol hari Sabtu (29 November) juga memberikan harapan: tidak ada nanah, dan jadwal kontrol berikut hari Selasa (2 Desember) disepakati bersama. Sampai sini, semua terasa seperti akan berakhir dengan baik.
Titik Perselisihan: Di Sini Ada Yang Salah
Ini adalah bagian yang membuat hati tertekan – beberapa isi dalam klarifikasi sebelumnya dari puskesmas ternyata tidak benar. Fakta yang sebenarnya adalah:
– Pada hari Selasa (2 Desember) pagi, keluarga telah menghubungi Dokter Jawa (ibu dokter) via WhatsApp untuk mengingatkan jadwal kontrol. Dokter menjawab bahwa ia sedang menghadiri acara pernikahan dan meminta keluarga untuk datang besok (hari Rabu, 3 Desember) – bukan keluarga yang sembarangan telat seperti yang dikatakan.
– Yang lebih penting: pada hari Selasa (2 Desember) jam 08.00 pagi, tangan perawat yang merawat pasien di rumah telah menemukan darah keluar dari luka – kondisi memburuk sudah muncul jauh sebelum jadwal kontrol yang dipundarkan.
Keluarga pasien patuh mengikuti petunjuk dokter dan tiba di puskesmas pada hari Rabu (3 Desember) jam 08.00 pagi. Saat itu, luka memang mengeluarkan darah banyak, pasien kehabisan obat karena jadwal yang dipindahkan, dan belum bisa mengonsumsi makanan yang disarankan karena kondisi situasi. Pasien dirawat dengan infus dan obat penghenti perdarahan, namun tidak bisa tinggal di puskesmas karena tidak ada listrik, air bersih, dan toilet MCK – hal ini kami terima dengan kesadaran.
Akhir Perjalanan: Ketidakmampuan yang Menyakitkan
Pada hari Sabtu (4 Desember) jam 05.00 pagi, keluarga mengetok rumah dinas dokter meminta infus. Dokter mencoba memanggil mantri, namun pasien tidak datang ke rumah mantri.
Jam 07.00 pagi, keluarga kembali datang dengan hati tertekan. Dokter menelpon mantri, yang langsung berangkat ke puskesmas mengambil infus dan pergi ke tempat pasien. Setelah satu kolf infus habis dan akan dilanjutkan yang kedua, pasien tiba-tiba kejang dengan napas tersengal-sengal. Tanpa listrik, puskesmas tidak bisa memasang oksigen. Pasien lemas akibat kehilangan darah banyak dan akhirnya meninggal.
Kata Akhir: Kebenaran untuk Menghormati Nyawa
Kami tidak menyampaikan klarifikasi ini untuk menciptakan konflik. Kami hanya ingin menegakkan kebenaran – bahwa keluarga pasien tidak melanggar anjuran, semuanya mengikuti petunjuk dokter. Kebenaran ini adalah bentuk penghormatan kepada nyawa pasien dan upaya untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan yang seharusnya melindungi.
Kami menghargai upaya tim kesehatan, namun juga mengharapkan transparansi yang sesungguhnya. Semoga kebenaran ini menjadi cahaya untuk memperbaiki layanan kesehatan di masa depan – agar tidak ada lagi cerita sedih yang disertai dengan kesalahpahaman yang tidak perlu.
Tim Redaksi


